Cerita Seks Rindu Kehangatan

Diposting pada
Obat Pembesar Penis

Cerita Seks Rindu Kehangatan – Pagi pagi sekali Susilo Bangun. Dia tampak agak terperanjat, sepertinya kaget. Tergagap matanya memandang ke arah jam di dinding kamarnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 6.15 menit. Dia kemudian menengok ke samping. Tampak istrinya sudah tak ada disampingnya. Tentulah Nina sudah bangun dari tadi.

Cerita Seks Rindu Kehangatan

Cerita Seks Rindu Kehangatan
Cerita Seks Rindu Kehangatan  – Dengan agak malas, Susilo pun turun dari tempat tidur. Menggerakkan bagian – bagian tubuh sambil menguap, kenudian bangun dan menyambar handuk. Lalu melangkah keluar kamar, menuju ke belakang dimana kamar mandi berada.
Di dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi, tampak istrinya yang sedang memasak. Tentunya untuk sarapan pagi.
“Sudah bangun, Mas?” sapa Nina.
“Iya. Hari ini aku harus berangkat lebih awal.”
“Memangnya kenapa?”
“Hari ini di kantor ada acara pergantian pimpinan,” jawab Susilo seraya membuka pintu kamar mandi. Kemudian melangkah masuk dan menutup pintu kamar mandi kembali. “Nin, tolong siapkan pakaianku…”
“Iya. Memangnya mau berangkat sepagi ini?”
“Jam tujuh aku harus sudah sampai di kantor untuk mempersiapkan segala sesuatu keperluan penyambutan pimpinan baru, “ jawab Susilo dari dalam kamar mandi. Dan tak lama kemudian, terdengar suara air bergecipak mengguyur tubuh.
Nina segera meracik kopi dan menyedu dengan air panas. Setelahitu, dibawanya kopi itu ke ruang makan di mana biasanya mereka melakukan sarapan pagi. Setelah itu, Nina menuju ke kamar. Dirapikannya tempat tidur. Dilipatnya selimut. Kemudian dia menuju ke lemari pakaian. Dibukanya lemari, dan di ambilnya sesetel pakaian kerja untuk suaminya. Meletakkannya diatas kasur. Lalu setelah itu, Nina kembali keluar. Langsung menuju ke dapur untuk meneruskan masak. Dia harus mempersiapkan sarapan lebih cepat, agar suaminya bisa sarapan pagi di rumah.
Dari kamar mandi, Susilo keluar dengan tubuh di lilit handuk.
“Sudah kau siapkan pakaianku, Nin?”
“Sudah, Mas.”
“Sudah matang masakannya?” tanya Susilo dengan wajah menunjukkan tak sabar.
“Sebentar lagi, Mas. Tinggal menumis. Kenapa memangnya?”
“kalau masih lama, biar aku sarapan di kantor saja.”
“Nggak kok, Mas. Tak lama. Paling lima menit.”
“Hm, baiklah. Aku berpakaian dulu…”
Susilo meneruskan langkahnya, meninggalkan ruang belakang. Masuk keruang tengah dan melangkah ke kamar tidur untuk mengenakan pakaian. Sedang Nina agak terburu – buru, berusaha menyelesaikan masakannya untuk sarapan pagi suaminya yang tampaknya tak sabar memburu waktu.
Lima menit kemudian, Susilo sudah keluar dari kamar dansudah berpakaian rapi. Siap untuk berangkat ke kantor. Dia menuju ke dapur dimana istrinya masih sibuk memasak.
“Bagaimana, sudah selesai?”
“Belum, Mas. Paling sebentar lagi.”
Susilo memandang ke arlojinya. Saat itu jam sudah menunjukkan angka 6.45, berarti hanya ada waktu 15 menit baginya. Kalau menunggu sampai istrinya selesai memasak, dia kawatir akan terlambat sampai di kantor. Karena itu, akhirnya Susilo memutuskan untuk tidak menunggu sampai istrinya selesai memasak.
“Sebaiknya aku sarapan di kantor saja nanti, Nin.”
“Tap, Mas…”Nina mencegah dengan wajah kecewa. Kalau suaminya tak sarapan di  rumah, berarti sia-sia dirinya memasak.
“Maaf, Nin, waktuku tak ada. Aku harus tiba di kantor jam tujuh. Sedang sekarang sudah jam enam lewat empat puluh lima menit… Oh ya, kau sudah buatkan aku kopi, kan?”
Nina mengangguk, masih dengan wajah menunjukkan kekecewaan.
Melihat istrinya tampak murung dan kecewa karena dia tak bisa sarapan pagi bersama di rumah, Susilo dengan bibir tersenyum menghampiri istrinya. Dipegangnya pundak Nina, lalu dengan lembut berkata : “Aku mengerti perasaanmu, Nin. Kau memang istri yang baik, yang ingin menunjukkan pengabdianmu pada suami. Tapi cobalah untuk mengerti. Aku hanya pegawai kecil yang harus mematuhi perintah atasan. Kalau atasan menyuruhku datang jam tujuh, maka aku pun harus mematuhi perintahnya. Nah, semoga kau mau mengerti.”
Nina akhirnya menyadari keadaan suaminya yang memang hanya pegawai kecil. Yang senantiasa patuh pada atasannya. Dan sebagai istri, dan sebagai istri dia harus bisa memberikan dorongan semangat dan membantu meringankan beban bagi suaminya. Dia pun akhirnya tersenyum, sambil merebahkan kepala di dada Susilo yang menerimanya dengan penuh kasih. Lalu dengan masih berpelukan keduanya melangkah ke ruang makan.
Susilo melepaskan pelukannya, mengambil gelas berisi kopi buatan istrinya. Kemudian setelah membuka penutup gelas, dia pun menyeruput kopi panas itu beberapa kali.
“Aku berangkat dulu, ya?” katanya lembut sambil mengecup kening istrinya dengan kecupan yang tak kalah lembut dan penuh kasih.
“Hati-hati, Mas.”
Susilo tersenyum dan mengangguk. Kemudian dengan di antar Nina sampai di teras rumah kontrakannya, Susilo pun pergi meninggalkan istrinya untuk berangkat kerja.
Setelah suaminya hilang di tikungan gang, Nina pun kembali masuk ke dalam rumah kontrakannya untuk meneruskan memasaknya. Namun Sesampainya di dapur, Nina jadi termenung sendiri. Untuk apa dia masak, toh suaminya sudah pergi tak sarapan pagi di rumah. Kalau pun untuk makan malam, tentu masakannya akan basi.
Di turunkan sumbu kompor, kemudian Nina pun duduk termenung di kursi dapur. Di helanya nafas panjang dan berat. Ingatannya seketika melayang pada beberapa tahun yang silam, ketika dia masih gadis. Lanjut membaca >>

***

Dulu, banyak pemuda yang tergila-gila kepadanya. Banyak pemuda anak orang kaya yang berusaha untuk mendapatkan dirinya. Namun Nina justru memilih Susilo, yang hanya tamatan SMA dan anak orang tak punya. Bahkan, sudah di tinggal mati oleh ayahnya semenjak masih kelas enam sekolah dasar.
Nina mencintai dan menyukai Susilo, bukan karena semata Susilo memang tampan. Tapi ada yang jauh menarik pada diri Susilo dalam penilaian Nina, yaitu sifat mandirinya. Bayangkan saja, sejak di tinggal mati ayahnya, Susilo berjuang hidup sendiri. Sambil sekolah, dia bekerja menjual koran. Dari hasil menjual koran itu, Susilo bisa membiayai sekolahnya dan juga memberi makan ibunya yang sakit-sakitan yang akhirnya meninggal dunia, saat Susilo baru duduk di bangku kelas tiga SMP.
Setamat SMP, dengan ijazah SMP-nya, Susilo pergi merantau ke Jakarta. Mungkin dia merasa, kalau hanya tinggal dikota kecil madiun, hidupnya kurang bisa berkembang. Dengan modal ijazah SMP-nya, Susilo kemudian melamar bekerja di sebuah perusahaan sebagai pesuruh kantor.
Atas kebaikan pimpinan perusahaan, Susilo diterima. Lagi-lagi, Susilo yang mandiri dan tak mau menyerah, berusaha untuk meningkatkan pendidikannya. Maka sambil bekerja, sore harinya dia pun meneruskan sekolah di sebuah SMA swasta yang dikhususkan untuk orang-orang yang sudah bekerja.
Dan akhirnya Susilo pun lulus dari SMA. Maka seiring dengan peningkatan pendidikannya, kedudukan Susilo pun meningkat pula. Dari pertama hanya sebagai pesuruh kantor, akhirnya setelah mengikuti tes kepegawaian yang diadakan oleh perusahaan, serta di tambah lagi dengan pengabdiannya selama ini, Susilo akhirnya diangkat menjadi staf dengan jabatan kepala staf Umum, yang membawahi para pesuruh, klining service, dan kurier.
Nina mengenal Susilo, bukan tidak lama. Dia dan Susilo adalah teman sekolah dari Sekolah Dasar sampai SMP. Jadi, sembilan tahun lamanya Nia mengenal Susilo.
Mulanya, Nina memang tak begitu perduli apalagi memperhatikan Susilo. Namun semenjak mereka duduk di bangku SMP, Nina mulai mengagumi Susilo. Dia kagum pada keuletan dan kemandirian Susilo. Dan dari rasa kagum itu, tumbuh di hati Nina benih-benih cinta pada Susilo. Dan tampaknya, begitu pula halnya dengan Susilo. Sayang, waktu itu mereka masih belum dewasa. Belum berani mengutarakan cinta. Ditambah lagi, keadaan status ekonomi mereka yang jauh berbeda. Semakin membuat Susilo segan untuk mengungkapkan perasaannya.
Namun, semenjak Susilo berada di Jakarta dan mulai bekerja, perasaan ingin mengungkapkan isi hatinya pada Nina semakin menggembu. Meski hatinya agak sedikit bimbang dan ragu apa mungkin Nina yang cantik dan putri orang kaya mau menerimanya sebagai teman? Tetapi, kenapa tidak dia coba? Diterima syukur, tidak pun tak apa-apa. Susilo harus maklum dan menyadari siapa dirinya dan siapa Nina.
Dengan masih menyimpan keraguan, Susilo pun iseng-iseng mengirim surat ke Nina. Mulanya menanyakan bagaimana kabarnya serta mengingatkan siapa dirinya.
Tak disangka, ternyata Nina masih ingat pada dirinya. Bahkan, tanpa Susilo duga, Nina berkenan membalas suratnya dan balik menanyakan keadaan dirinya. Semenjak itu, mereka pun Saling bersurat-suratan. Mulanya hanya menanyakan kabar, namun lama kelamaan Susilo memberanikan diri menanyakan apakah Nina sudah punya pacar? Yang di balas oleh Nina dengan mengatakan : belum. Bahkan Nina dengan berani balas bertanya : kenapa memangnya? Apa kamu punya keinginan menjadi pacarku ?
Menerima surat itu, Susilo semula masih bimbang dan ragu. Hatinya pun bertanya-tanya : apa pernyataan Nina itu sungguh-sungguh, atau hanya bercanda.
Untuk membuktikan apakah pernyataan Nina sungguh-sungguh atau bercanda, suatu hari setelah tamat SMU dan sudah di angkat menjadi staf perusahaan dan ketika ada waktu cuti, Susilo pulang ke kampunghalamannya di mana Nina tinggal.
Sungguh tak disangka, mendengar Susilo datang, Nina waktu itu duduk di bangku kuliah langsung menemui Susilo dan kemudian, mengajak Susilo pergi jalan-jalan ke pantai.
Di pantai itulah, keduanya saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Dan ternyata cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan. Baik Nina maupun Susilo, ternyata selama ini menyimpan perasaan cinta.
“Jadi . . . Kau benar mau menerima cintaku?”  tanya Susilo yakin. Matanya menatap lekat ke wajah Nina, seakan berusaha untuk mencari kepastian atas keraguannya.
“Ya,” tegas Nina Mantap, sambil balas menatap lekat ke wajah Susilo yang tampan.
“Tapi… Aku hanya…”
“Aku mencintaimu, bukan karena harta, Sus,”potong Nina. “Kalau aku memandang harta, bukankah sudah dari dulu kuterima saja lamaran Bowo, anak pak camat. Namun aku mencintaimu, karena aku menilai kau lelaki yang bertanggung jawab, yang bisa mandiri. Dan aku yakin, bersamamu aku akan mendapatkan cinta kasih serta perlindungan dan tanggung jawab yang kuinginkan.”
Mengetahui putrinya berhubungan dengan Susilo, orang tua Nina marah. Mereka kemudian berusaha memisahkan cinta Susilo dengan anaknya. Bahkan, karena Nina tetap nekad berhubungan dengan Susilo, kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan Bowo, putra Pak Camat yang ngebet dan tergila-gila pada Nina.
Tak mau menikah dengan lelaki yang tidak dicintai, Nina pun nekad kabur meninggalkan rumah. Dia minggat ke Jakarta menemui Susilo. Dan akhirnya mereka pun bertemu.
“Nina . . . kapan kau datang?” tanya Susilo waktu mendapatkan kekasihnya sudah berada di dalam rumah kontrakannya.
“Tadi siang.”
“Apa yang terjadi?”
“Aku kabur.”
“Kabur?” kening susilo mengerut. Matanya memandang lekat ke wajah kekasihnya, seakan berusaha untuk mencari tahu apa yang membuat kekasihnhya itu sampai kabur.
“Ya,”desah Nina lirih dan sedih.
“Kenapa?”
Dengan menangis sambil memeluk Susilo, Ninapun menceritakan apa yang terjadi yang sebagian sudah diketahui oleh Susilo, yaitu ketidak setujuan kedua orang tua Nina akan hubungan cinta mereka. Kemudian, karena Nina tetap nekad menjalin hubungan dengan Susilo, kedua orang tuanya bermaksud menikahkan Nina dengan Bowo, anak Pak Camat.
“Sus . . .”
“Ya?”
“Kulakukan semua ini, karena aku hanya mencintaimu. Karena itu, aku pun berharap kau tidak menyia-nyiakan pengorbananku,” pinta Nina.
“Tentu sayang. Aku berjanji akan mencintai dan menyayangimu sepenuh hati. . .”
Meski kedua orang tua Nina tak menyetujui, namun karena saling mencintai, keduanya pun akhirnya sepakat untuk menikah. Tak lupa, mereka tetap berusaha mengundang kedua orang tua Nina datang. Namun kedua orang tua Nina menolak datang, bahkan dengan marah ayah Nina membalas surat mereka yang isinya, sejak saat itu mereka tak lagi mau mengakui Nina sebagai anak mereka.
Nina mulanya menangis sedih setelah membaca surat dari orang tuanya. Namun akhirnya dia pun bisa menerima kenyataan yang ada. Dia sudah mengambil keputusan, maka apapun yang dia terima sebagai buah dari keputusannya, harus dia terima dengan lapang dada. Nina hanya berharap, kiranya Susilo akan senantiasa mencintai dan menyayanginya. Sebab hanya pada Susilo segalanya dia pasrahkan.
Lima tahun sudah mereka menikah, dan selama itu pula Susilo senantiasa tetap menunjukkan cinta kasihnya. Sehingga kesedihan hati Nina karena tak lagi diakui anak oleh orang tuanya, terhibur.
Nina menghela napas panjang, setelah mengingat masa lalunya. Lima tahun sudah dia menjadi istri Susilo –mendapatkan cinta kasih dari Susilo sebagaimana yang dia harapkan. Sayang, wakau sudah lima tahun menikah, di antara mereka belum juga hadir seorang anak sebagai buah dari cinta mereka. Padahal, Nina berharap kiranya Tuhan memberi mereka seorang anak. Karena dengan kehadiran seorang anak, Nina berharap kedua orang tuanya akan mau memaafkannya dan mau menerima dan merestui pernikahannya dengan Susilo.

Incoming search terms:

Agen Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *